The Wedding Of

Cintia Lestari

Putri Ketiga Bpk. Nursiwan dan Ibu Andryani

&

NEXT

Bagas Setio Budi. S.pd

Putra Bungsu Bpk. Kusmawadi (Alm) dan Ibu Suaida

Akad Nikah

Kamis, 24 Maret 2021

Lok. Gedung Wanita, Nganjuk

Days
Hours
Minutes
Seconds

💕 Kisah Pernikahan Ku💕

Jodoh itu misteri, ibarat rezeki yang sering datang di waktu yang tak disangka-sangka. Di saat saya sudah putus asa dan pasrah, jodoh tiba-tiba hadir. Kami sudah saling tahu cukup lama, sekitar 2 tahunan, namun jarang sekali berkomunikasi padahal satu ruangan kerja. Mungkin dalam 2 tahunan itu bisa dihitung pakai jari kami berkomunikasi.

Tiba-tiba saja suami mengungkapkan ingin bertemu orang tua saya dan ingin berkomitmen dengan saya lewat pernikahan. Kaget? Sudah pastilah. Kalau lagi berkhayal ingin rasanya ada yang mau segera nikahin, trus menikah  punya anak dan hidup bahagia. Tapi saat menghadapi hal seperti ini antara kaget, bingung, ada senengnya juga, semua campur aduk jadi satu. Singkatnya tanggal 10 November 2016 saya menerima dan mencoba membuka hati untuk suami saya tersebut dan memulai yang kata orang namanya pacaran.

Kami berdua bekerja di Jakarta, dan orang tua kami kebetulan sama-sama tinggal di Jogja. Karena itu suami saya tidak bisa langsung bertemu dengan orang tua saya. Sebulan kemudian kami pulang ke Jogja, tanggal 14 Desember 2016. Suami akhirnya bertemu dengan kedua orang tua. Di sinilah drama-drama dimulai, awalnya saya berpikir itu hanya pertemuan keluarga dengan tujuan saling mengenal tapi ternyata saya dilamar. Waktu pernikahan diserahkan kepada kami berdua. Awalnya suami saya minta sebulan kemudian menikah, bulan Januari 2017, namun saya belum siap dan minta diundur sebulan berikutnya akhirnya disepakati tanggal 26 Februari 2017.

Nentuin tanggal nikah itu ribet juga, udah fixed tanggal itu, ternyata tanggal ini pun berubah lagi, senior di tempat bekerja menikahkan anaknya di tanggal yang sama tanggal 26 Februari 2017. Akhirnya jadi bahasan orang-orang kantor, kebanyakan pada pergi ke nikahan kami, mungkin sekalian jalan-jalan ke Jogja. Kalau kebanyakan pergi ke tempat kami, kasihan juga senior kami.

Kami akhirnya berunding kembali, suami juga kurang sreg awalnya, kenapa harus kami yang mengalah berganti tanggal pernikahan yang sudah ditentukan. Namun pada akhirnya kami menyepakati tanggal pernikahan dimajukan menjadi tanggal 19 Februari 2017. Beruntungnya, meskipun kami sama-sama berasal dari Jawa yang biasa dikenal dengan hitungan hari baik tetapi kami dan keluarga menganggap bahwa semua hari itu baik. Jadi dari keluarga menerima keputusan kami berdua.

Tak berhenti di situ, persoalan tanggal masih ada. Di bulan Januari 2017 suami menerima surat untuk mengikuti diklat 3 bulan dari bulan Februari – April 2017. Kalau tidak mengikuti diklat tersebut suami tidak bisa mengajukan jabatan fungsional. Dan diklat tersebut jadi syarat utama mengajukan jabatan fungsional dan hanya diadakan satu tahun sekali. Konsekuensi  kalau tidak mengajukan jabatan fungsional di tahun tersebut tunjangan suami diturunkan, lumayan jugalah pengurangannya sekitar Rp500 ribuan. Angka tersebut buat kami lumayan banyak dan membuat galau jadi nikah tanggal tersebut atau tidak.

Ternyata kenyataan tak sesimpel yang kami pikirkan. Saya anak perempuan satu-satunya dan anak pertama di keluarga. Akhirnya mengesampingkan keinginan saya dan memutuskan ada resepsi meskipun kecil-kecilan sesuai masukan dari keluarga. Menentukan konsep pernikahan dan mencari baju pengantin, make up, catering dan lain-lainnya dengan waktu dua bulan itu ternyata sangat mepet sekali. Baju pengantin sampai berkali-kali ganti konsep, saya cocok tapi suami tidak, belum lagi orang tua dan mertua.

Deg-degan, galau dengan akhir ceritanya karena mantannya lebih dari saya dari segala hal. Lebih cantik, fashionable, badannya lebih bagus, dari keluarga berada dan masih banyak lagi. Alhamdulillah suami tak goyah dari niatnya dan menyelesaikan masalahnya dengan mantannya. Tak berakhir di situ, tiba-tiba saya mengetahui kelakuan buruk suami saya sebelum dekat dengan saya. Kalau saya tidak teguh dengan pendirian bisa saja hal ini membatalkan pernikahan kami. Namun saat itu saya bisa menerimanya dan menganggap hal itu hanyalah sesuatu di masa lalu. Kalau saya melihat satu keburukannya dan tak melihat seribu kebaikannya itu tidak adil. Toh setiap manusia punya masa lalu, dan dia mau berubah untuk yang lebih baik. Saya pun bukan orang yang sempurna pasti punya banyak kekurangan.

Akhirnya setelah melalui berbagai hal, pada tanggal 19 Februari 2017 pada pukul 09.00 WIB kami sah secara agama dan hukum dengan mahar seperangkat alat shalat dibayar tunai. Menikah itu bukan akhir kisah percintaan tetapi awal dari kisah cinta yang sesungguhnya. Namanya bersatunya dua orang yang berbeda pasti tak semudah mempersatukan kedua tangan. Perbedaan pendapat dan cara pandang pasti ada, asal kita mau mendiskusikan dan tidak mendahulukan ego masing-masing masalah bisa diselesaikan bersama. Berbicara menggunakan hati dan mau lebih mengenal kepribadian pasangan. Sampai sekarang saya menganggap suami adalah teman hidup dan teman berbagi.  

Semoga Menginspirasi 😊